Antropologi Pendidikan - definisi Antropologi Pendidikan

Kamis, 17 Mei 2012

Antropologi Pendidikan
A.          Pendahuluan
Antropologi pendidikan merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang masuk dalam kurikulum Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Perkuliahan Antropologi pendidikan biasanya diletakkan pada semester tahun kedua. Antropologi pendidikan mencoba mengungkapkan proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan melalui proses enkulturasi dan sosialisasi. Selain itu, proses belajar individu sebagai kegiatan sosial budaya merupakan pemahaman dari Antropologi Pendidikan, termasuk di dalamnya peran pendidikan formal dan pendidikan informal.
Antropologi pendidikan adalah cabang spesialisasi yang termuda dalam antropologi. Antropologi sebagai kajian manusia dan cara-cara hidup mereka, yang muncul pada saat lahirnya gagasan oleh semangat etnografi, arkeologi, geologi dan terutama di dorong oleh semangat Darwinisme. Dengan didorong oleh konsep evolusi organisme, mulailah berkembang Antropologi dengan pandangan bahwa pada dasarnya semua kebudayaan manusia berkembang melalui tahap-tahap yang menjurus kearah kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa dan Amerika.
Menurut ahli Antropolog Amerika, L.H.Morgan, ada tiga tahap perkembangan kebudayaan manusia, yaitu savagery, barbarisme dan civilization yang melukiskan proses evolusi manusia dan masyarakat dari semua manusia dan masyarakat di dunia. Sedangkan di daerah Eropa, ada aliran Diffusionisme (kulturkreis) yang mengemukakan bahwa berbagai kebudayaan umat manusia bukan muncul sebagai hasil pertumbuhan paralel yang independent tetapi merupakan difusi dan invensi dari beberapa pusat kebudayaan. Emile Durkheim, Bronislaw Malinowski (Eropa) dan Franz Boas (Amerika) memprakarsai lahirnya Antropologi empiris dengan mengembangkan beberapa aliran tertentu. Franz Boas yang mempengaruhi beberapa antropolog Amerika dengan konsep kebudayaan sebagai satu totalitas (totalitas es wholes) yang memperhatikan aspek-aspek tertentu dari kebudayaan berbeda, sedangkan pengikutnya mengarahkan perhatian pada pola-pola dasar atau konfigurasi-konfigurasi dari bagian yang membuat bagian masing-masing kebudayaan berfungsi sebagai satu keseluruhan. Maka sejak itu kajian mengenai kebudayaan dan kepribadian menjadi inovasi utama, yaitu tentang proses bagaimana sebuah kebudayaan di internalisasikan dan dirubah oleh individu yang memungkinkan kebudayaan muncul dan berfungsi. (Koentjaraningrat, 1987).
Sebagai cabang ilmu termuda di antara ilmu-ilmu sosial lainnya, Antropologi telah melampaui ilmu sosial lainnya dalam rentangan subjek matter dan metodologi. Antropolog menghubungkan semua aspek terhadap kebudayaan sebagai satu keseluruhan yang mengkaji semua kebudayaan baik lampau maupun sekarang, sederhana ataupun maju. Antropolog menyadarkan kita akan keragaman kebudayaan umat manusia dan pengaruh yang dalam dari pendidikan (cultural conditional) terhadap perilaku dan kepribadian manusia.

B.          Antropologi, Pendidikan dan Kebudayaan
1.            Antropologi dan Pendidikan
Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran, pemberian pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui pikiran, karakter serta kapasitas fisik dengan menggunakan pranata-pranata agar tujuan yang ingin dicapai dapat dipenuhi. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan melalui enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat yang sangat kompleks, terspesialisasi dan berubah cepat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Dengan makin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehinga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan diluar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan social budayanya. Teori khusus dan percobaan yang terpisah tidak akan menghasilkan disiplin antropologi pendidikan. Pada dasarnya, antropologi pendidikan mestilah merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropolog terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan.(Imran Manan, 1989)
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Dimana para pendidik harus melakkan secara hati-hati. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan baru yang bersifat tentatif. Setiap penyeldikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.
Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
2.            Makna Kebudayaan
Makna kebudayaan, secara sederhana berarti semua cara hidup (ways of life) yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat. Dari prespektif lain kita bisa memandang suatu kebudayaan sebagai perilaku yang dipelajari dan dialami bersama (pikiran, tindakan, perasaan) dari suatu masyarakat tertentu termasuk artefak-artefaknya, dipelajari dalam arti bahwa perilaku tersebut disampaikan (transmitted) secara sosial, bukan diwariskan secara genetis dan dialami bersama dalam arti dipraktekkan baik oleh seluruh anggota masyarakat atau beberapa kelompok dalam suatu masyarakat.
Masyarakat merupakan suatu penduduk lokal yang bekerja sama dalam jangka waktu yang lama untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan kebudayaan merupakan cara hidup dari masyarakat tersebut atau hal-hal yang mereka pikirkan, rasakan dan kerjakan. Masyarakat mungkin saja memiliki satu kebudayaan jika masyarakat tersebut kecil, terpisah dan stabil.
3.            Isi Kebudayaan
Pada dasarnya gejala kebudayaan dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan/aktivitas, gagasan/ide dan artefak yang diperoleh, dipelajari dan dialami. Kebudayaan dapat diklasifikasikan atas terknologi sebagai alat-alat yang digunakan, organisasi sosial sebagai kegiatan institusi kebudayaan dan ideologi yang menjadi pengetahuan atas kebudayaan tersebut. Menurut R. Linton, kebudayaan dapat diklasifikasikan atas:
1)    Universals: pemikiran-pemikiran, perbuatan, perasaan dan artefak yang dikenal bagi semua orang dewasa dalam suatu masyarakat.
2)    Specialisties: gejala yang dihayati hanya oleh anggota kelompok sosial tertentu.
3)    Alternatives: gejala yang dihayati oleh sejumlah individu tertentu seperti golongan profesi.
Kebudayaan merupakan gabungan dari keseluruhan kesatuan yang ada dan tersusun secara unik sehingga dapat dipahami dan mengingat masyarakat pembentuknya. Setiap kebudayaan memiliki konfigurasi yang cocok dengan sikap-sikap dan kepercayaan dasar dari masyarakat, sehingga pada akhirnya membentuk sistem yang interdependen, dimana koherensinya lebih dapat dirasakan daripada dipikirkan pembentuknya. Kebudayaan dapat bersifat sistematis sehingga dapat menjadi selektif, menciptakan dan menyesuaikan menurut dasar-dasar dari konfigurasi tertentu. Kebudayaan akan lancar dan berkembang apabila terciptanya suatu integrasi yang saling berhubungan.
Dalam kebudayaan terdapat subsistem yang paling penting yaitu foci yang menjadi kumpulan pola perilaku yang menyerap banyak waktu dan tenaga. Apabila suatu kebudayaan makin terintegrasi maka fokus tersebut akan makin berkuasa terhadap pola perilaku dan makin berhubungan fokus tersebut satu dengan yang lainnya dan begitu pula sebaliknya. Kebudayaan akan rusak dan bahkan bisa hancur apabila perubahan yang terjadi terlalu dipaksakan, sehingga tidak sesuai dengan keadaan masyarakat tempat kebudayaan tersebut berkembang. Perubahan tersebut didorong oleh adanya tingkat integrasi yang tinggi dalam kebudayaan. Apabila tidak terintegrasi maka kebudayaan tersebut akan mudah menyerap serangkaian inovasi sehingga dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
4.            Sifat Kebudayaan
Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat memiliki sifat seperti:
1)    Bersifat organik dan superorganik karena berakar pada organ manusia dan juga karena kebudayaan terus hidup melampaui generasi tertentu.
2)    Bersifat terlihat (overt) dan tersembunyi (covert) terlihat dalam tindakan dan benda, serta bersifat tersembunyi dalam aspek yang mesti diintegrasikan oleh tiap anggotanya.
3)    Bersifat eksplisit dan implisit berupa tindakan yang tergambar langsung oleh orang yang melaksanakannya dan hal-hal yang dianggap telah diketahui dan hal-hal tersebut tidak dapat diterangkan.
4)    Bersifat ideal dan manifest berupa tindakan yang harus dilakukannya serta tindakan-tindakan yang aktual.
5)    Bersifat stabil dan berubah yang diukur melalui elemen-elemen yang relatif stabil dan stabilitas terhadap elemen budaya.

5.            Teori-teori Kebudayaan
Ada tiga pandangan tentang kebudayaan, yakni:
1)            Superorganik: kebudayaan adalah realitas super dan ada di atas dan di luar pendukung individualnya dan kebudayaan memiliki hukum-hukumnya sendiri. Inti pandangan superorganik adalah kebudayaan merupakan sebuah kenyataan sui generis, karena itu mesti dijelaskan dengan hukum-hukumnya sendiri. Kebudayaan tidak mungkin diterangkan dengan menggunakan sumbernya sebagaimana sebuah molekul dimengerti hanya dengan jumlah atom-atomnya, sumber-sumber bisa menjelaskan bagaimanan kebudayaan muncul, tetapi bukan kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan lebih daripada hasil kekuatan-kekuatan sosial dan ekonomi dan kebudayaan merupakan realitas yang menyebabkannya mungkin ada.
Pandangan superorganik mempunyai implikasi terhadap pendidikan. Yang pertama adalah bahwa pendidikan ialah sebuah proses mengontrol manusia dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Kebijakan pendidikan ditentukan oleh individu-individu, tetapi individu-individu hanya alat melalui mana kekuatan-kekuatan budaya mencapai tujuannya. Jika kebudayaan menentukan perilaku anggota-anggotanya, kurikulum mesti dikembangkan atas kajian langsung dari keadaan kebudayaan sekarang dan masa depan. Pandangan superorganik juga berimplikasi pada pengawasan pendidikan yang ketat dari pemerintah untuk menjamin bahwa guru-guru menanamkan dalam diri generasi muda atas gagasan-gagasan, sikap-sikap dan keterampilan-keterampilan yang perlu bagi kelanjutan kebudayaan
2)            Konseptualis: kebudayaan bukanlah suatu entitas sama sekali, tetapi sebuah konsep yang digunakan antropolog untuk menghimpun/meunifikasikan serangkaian fakta-fakta yang terpisah-pisah. Menurut kaum konseptualis, pada akhirnya semua kebudayaan mesti diterangkan secara sosial psikologis. Kebudayaan bukan dihasilkan dari kekuatan super human karena kebudayaan mendapatkan semua kualitas dari kepribadian dan interaksi dari kepribadian.
Pengikut konseptualis setuju bila anak-anak harus mempelajari warisan budaya sesuai dengan perhatiannya. Melalui pengalamannya sendiri dengan mengetes pengalaman belajarnya dan orang lain bila mendapat pandangan dan hal yang objektif mengenai kebudayaan.
3)            Realis: kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan entitas empiris. Kebudayaan adalah konsep dimana ia bangunan dari Antropologi dan kebudayaan sebuah entitas empiris yang menunjukkan cara mengorganisir fenomena-fenomena. Beberapa antropolog mempertahankan bahwa kebudayaan merupakan konsep dan realita yang berbentuk konstruk, bukan sebagai satu entitas yang bisa diamati tapi nyata karena tidak berbeda dalam mengamatinya.
Menurut kaum realis terhadap pendidikan adalah dengan menanamkan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu yang dipilih kebudayaan maka sistem pendidikan akan melatih individu untuk merubah kebudayaannya.
C.          Transmisi Budaya dan Pendidikan
Dalam kepustakaan antropologi pendidikan ditemukan beberapa konsep yang paling penting, yakni enculturation (pembudayaan/pewarisan), socialization (sosialisasi/pemasyarakatan), education (pendidikan), dan schooling (persekolahan).
Menurut Herskovits, bahwa enkilturasi berasal dari aspek-aspek dari pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari makhluk lain dengan menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses enkulturatif bersifat kompleks dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal masa kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari masyarakatnya. Bahwa tiap anak yang baru lahir memiliki serangkaian mekanisme biologis yang diwarisi, yang harus dirubah atau diawasi supaya sesuai dengan budaya masyarakatnya.
Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari pernyataan Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasi individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam kebudayaan kelompok.
Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan bertingkah laku, pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode perlambangan seperti bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan menanggapi, ideologi dan sikap-sikap. Sedangkan sosialisasi menurut Gillin dan Gillin adalah proses yang membawa individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari suatu kelompok, yang bertingkah laku menurut standar-standar kelompok, mengikuti kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi kelompok dan menyesuaikan dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya untuk mendapatkan penerimaan yang baik dari teman-teman sekelompoknya.
Bagi Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning” dan persekolahan (schooling) adalah “formalized learning”. Dalam literature pendidikan dewasa ini dikenal istilah pendidikan formal, informal dan non-formal. Pendidikan formal adalah system pendidikan yang disusun secara hierarkis dan berjenjang secara kronologi mulai dari sekolah dasar sampai ke universitas dan disamping pendidikan akademis umum termasuk pula bermacam-macam program dan lembaga untuk pendidikan kejuruan teknik dan profesional.
Pendidikan informal adalah pendidikan seumur hidup yang memungkinkan individu memperoleh sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dan pengaruh-pengaruh yang ada di lingkungannya dari keluarga, tetangga. Label informal berasal dari kenyataan bahwa tipe proses belajarnya bersifat tidak terorganisasi dan tidak tersistematis. Pendidikan informal biasanya dilaksanakan dalam masyarakat sederhana dimana belum ada sekolah.
Karangan Margared Mead mengenai pendidikan dalam masyarakat sederhana (1942), dimana ia membedakan antara learning cultures dan teaching cultures atau kebudayaan belajar dan kebudayaan mengajar. Dalam golongan yang pertama, warga masyarakatnya belajar dengan cara yang tidak resmi yaitu dengan berperan serta dalam kehidupan rutin sehari-hari. Dimana mereka memperoleh segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan untk dapat hidup dengan layak dalam masyarakat dan kebudayaan mereka sendiri. Dalam golongan yang kedua, warga masyarakat mendapat pelajaran dari warga-warga lain yang lebih tahu, yang seringkali dilakukan dalam pranata-pranata pendidikan yang resmi, dimana mereka memperoleh segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan.
Pendidikan non-formal merupakan kegiatan terorganisasi di luar kerangka sekolah formal atau sistem universitas yang ada yang bertujuan untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan tertentu, pengetahuan, sikap-sikap. Pendidikan non-formal memusatkan perhatian kepada perbaikan kehidupan sosial dan kemampuan dalam pekerjaan. Pendidikan non-formal lebih berorientasi terhadap menolong individu-individu memecahkan masalah mereka, bukan pada penyerapan isi kurikulum tertentu. Pengajaran dilakukan melalui kerjasama dengan guru, umpamanya dengan pekerja-pekerja ahli, pekerja sosial, penyuluh pertanian, dan petugas kesehatan.


D.          Pendidikan Adalah Kebudayaan : Renungan Leo Tolstoy
Persoalan pendidikan yang rumit memicu berbagai tingkat dalam berbagai cara , pentingnya masalah pendidikan hingga para filsuf pertama mengembangkan teori-teori formal yang mengkaitkan pendidikan dengan konsepsi politik serta hakikat manusia, ditingkat yang kurang formal orang tua bertanggung jawab mengembangkan prinsip pengasuhan anak dalam masyarakat serta nilai-nilai anak dimasa depan sebagai individu dan warganegara
Kedua masalah ini mempunyai konflik yang khusus di masyarakat yang kompleks menuntut cara-cara formal untuk menyalurkan perbaharuan tentang kebudayaan serta pentingnya meneliti fungsi pendidikan dalam kebudayaan. Asumsi ini muncul karena frustasi Tolstoy yang menjangkit di dunia pendidikan secara objektif, Tolstoy melihat usaha pendidikan berlangsung secara otomatis yang terlihat dengan tidak mempedulikan sasaran-sasaran serta tujuan-tujuan yang sejati yang terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran dan tata cara tradisional, seorang murid telah diabaikan sebagai faktor dalam pemikiran tentang pendidikan. Kegagalan mengenali fakta pokok ini menyuburkan penyimpangan-penyimpangan dan kesalahan konsep yang menjamin kegagalan pendidikan.
Asumsi plato sama dengan yang dirasakan Tolstoy yang menyaksikan penyia-nyiaan bakat serta kurangnya kreatifitas kaum muda dimasyarakat Atena. Hal serupa juga sama yang menyerupai asumsi Jean-Jacques Rousseau yang merasa dirinya harus mencari pandang sepenuhnya baru dan segar untuk menatap keseluruhan proses pendidikan serta nalar yang mendasarinya. John Dewey juga mengajukan pedagogi baru yang didasari psikologi yang nalar. Pandangan Tolstoy tidak tuntas karena lebih menyinarkan akal sehat romantis pragmatis, ad bock atau anti teoritis. Tolstoy mengungkapkan renungan yang cukup mendalam bagaimana seharusnya kita berkarya. Asumsi Tolstoy memakai dua sumber konsepsi philosofisnya tentang kehidupan secara umum dan kesenian secara khusus serta pengalaman praktis yang ia dapatkan dari sekolah anak-anak tani yang didirikannya. Di Yasno-Polyana pengaruh dua sumber ini saling berkaitan anatara satu dengan yang lainnya. Tolstoy memakai anekdok percakapannya dengan salah seorang murid, Fedka tentang hubungan antara seni dengan kebudayaan sebagai titik tolak pengantar karya besarnya dibidang estetika.
Pandangan Tolstoy tentangan kehidupan bersifat romantis yang menekankan pentingnya roh manusia yang bebas dihidupkan oleh Tuhan dan diarahkan oleh minat, emosi serta hasrat pribadi. Pandangan Tolstoy sama dengan Rousseau tetapi Tolstoy tetap mengkritik yang pedas terhadap Rousseau dan menolak gagasan-gagasan pendidikan Rousseau. Orang menganggap Rousseau sebagai “sibiang onar”, yang memuja-muja manusia tak beradap dan luhur. Tolstoy memahi adanya prinsip lain yang dominan terhadap pemikiran Rousseau misalnya dalam kontrak sosial kita temukan konsepsi Rosseau tentang kebebasan sosial yang bersemi dari suatu folonte general atau anti-individualistik menurutnya masyarakat ideal mempunyai tujuan untuk mencapai keseimbangan terhadap penekanan individualitas keotoritas sosial yang bernuansa platonic. Asumsi ini yang ditolak oleh Tolstoy menurutnya kebebasan individual merupaka suatu titik tolak yang positif
Gaya penulis Tolstoy luwes nyastra, tidak terikat logika, serta bersifat sentimental, ironis dan sarkastis yang penuh dengan paradoks, dan pernyataan-pernyataan yang bersifat impresionistik yang sangat tajam tentang pendidikan, menurutnya pendidikan mempunyai empat unsur pokok diantaranya
1)    Guru yang merupakan agen utama yang bertujuan mengarahkan dan memikul tanggung jawab terhadap proses pendidikan.
2)    Murid yang menjadi objek upaya pendidikan, yang perilakunya diubah dan dimodifikasi.
3)    Bahan pengajaran pengertahuan yang ditanamakan kepada murid
4)    Tujuan, sasaran, cita-cita dan hasil akhir yang diharapkan dari proses pendidikan akhir.
Pemahaman ini merupakan kritikan Tolstoy tentang pendidikan yang ada di Rusia. Ia juga mengkritik tentang pendidikan yang ada di Eropa dan Amerika, baik pendidikan klasik maupun pendidikan yang berkembang pada masa Tolstoy. Menurut Aristoteles Sasaran pendidikan adalah untuk mencapai kehidupan yang baik. Berbeda dengan asumsi dari Tolstoy yang beranggapan bahwa pendidikan tidak punya sasaran, tujuan dari pendidikan berasal dari proses pendidikan itu sendiri atau disebut dengan pemahaman. Konsep utama menurutnya adalah kebudayaan yang merupakan nilai-nilai masyarakat yang maju yang tetap bertahan meski di cam dengan kritikan-kritikan dan dijadikan sebagai klaim-klaim yang saling bertentangan, kebudayaan tampil sebagai lumbung dan nilai-nilai yang besar
Rousseau menganggap pendidikan merupakan jalan pembebasan-pembebasan individu dari prasangka-prasangka. Tolstoy tetap tidak setuju dengan pendapat Rousseau, ia tidak menyangkal pentingnya nilai-nilai yang Utilitarian yang tidak sengaja timbul dari pendidikan, tapi dia juga menyetujui bahwa pendidikan merupakan proses membebaskan individu agar berimprovisasi secara kreatif melalui pemahaman.
Tolstoy mendekati pendidikan tanpa akhir dan kepastian, menurutnya kebudayaan dijelaskan dengan berbagai konsep. Menurutnya kebudayaan merupakan sebuah prinsip liberar humanistic yang menjelaskan kesetaraan semua manusia dan pentingnya realisasi diri yang tidak mempunyai arah yang pasti bagi kegiatan manusia. Dia melihat ketidak pastian tentang prinsip ini. Hendaknya kita tidak melihat kembali mengenai prinsip pendidikan yang mengarah kepada nilai-nilai tradisional, tapi kita melihat semangat dari kebebasan manusia individu tentang pendidikan yang mempunyai arah sendiri, konsep ini merupakan konsep radikal yang merupakan titik tolak pendidik pragmatis Amerika, tujuan pendidikan dalam pandangan ini dikebumikan menjadi kegiatan yang mempunyai tujuan pragtis yang memiliki dampak yang jelas yang sangat bergantung pada akal sehat
Tugas-tugas pokok guru adalah mencari cara bagaimana menjadikan pengetahuan atau bahan pelajaran pendidikan bermakna bagi murid sehingga persekolahan bermakna bagi siswa. Kebanyakan teori pendidikan menyerahkan tugas-ugas pada guru, tapi dalam skema pendidikan Tolstoy setiap tugas tersebut mempunyai arti khusus, karena ia menolak bahwa belajar merupakan suatu hal yang wajib yang ditanamkan diluar individu atas dasar takut akan hukuman.
Seorang guru menurut Tolstoy dapat memutuskan metoda apa yang dipakai untuk mengajarkan bahan-bahannya, dan mengambil keputusan tentang apa yang akan diajarkan. Teori pendidikan yang konfensional yang lain tidak memberi peran sebesar ini pada guru menurutnya guru tidak hanya mengajarkan bahan-bahan secara tradisional yang telah diketahuinya tapi seorang guru dituntut memahami nilai-nilai masyarakat pada saat proses belajar berlangsung.
Menurut Tolstoy guru merupakan seorang seniman yang mandiri dan kreatif yang merangsang murid-murid untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang dianggap bernilai. Seorang guru diberikan kebebasan yang luar biasa terhadap nilai. Tugas pendidik bukan hanya menyiapkan kurikulum yang mencerminkan kebudayaan semu yang dijalin dengan prasangka atau konsepsi-konsepsi arti fisial para teoritisi yang bersifat abstrak. Seorang guru harus memahami dunia nyata, kebudayaannya serta menyiapkan murid agar tumbuh dan berkembang didalamnya. Menurutnya pendidikan konfenisonal gagal menjalankan tugas itu karena kehilangan asumsi yang terkait timbal balik antara sekolah dengan kehidupan sehingga pendidikan tidak efektif. Bidang studi termasuk modus penyelidikan terkait seorang guru harus memahami apa yang diajarkan dengan disiplin kejujuran intelektual serta ketangguhan logika.
Pusat dari proses pendidikan yang fital adalah keterlibatan dinamis setiap murid secara individu sesuai dengan aspek-aspek tertentu dan pemahaman kebudayaan melalui arahan seorang guru yang memusatkan pada aspek-aspek bidang studi yang dianggap paling berharga. Tidak ada bidang studi yang diskralkan dan harus dipelajari oleh semua murid. Yang harus ditanamkan adalah keterampilan dan kepekaan terhadap bidang studi. Menurut Tolstoy pengetahuan ilmiah merupakan suatu hal yang terpadu. Ilmu pengetahuan sama dengan kebudayaan dimana kebudayaan diambil dan disederhanakan. Tiap disiplin akademik bisa menjadi jalan untuk memahami konsep kebudayaan.
Gagasan Tolstoy tentang psikologi murid menurutnya seorang murid merupakan pribadi yang berusia muda yang mempunyai keresahan, ketakutan serta keingintahuaan keintelektulan dan imajinasi yang tidak terbatas.
Ada dua cara pengarahan pendidikan menurut psikologi anak yang pertama menimbulkan semangat, minat anak yang di didik. Yang kedua seorang guru memberikan motif-motif yang efektif untuk mengajak anak agar belajar. Sekolah harus mengikuti alur motif-motif ini. Metode ini diterapkan sebagai keyakinan-keyakinan yang bersifat pribadi. Contoh ini mengalami kegagalan tapi ia mencoba mencari metode yang tepat.
Contoh yang diajukan dalam perjalanan mengembangkan pendidikan yang bersifat permisif ekstrim tidak hanya dalam teknik pengajarannya tapi juga pengorganisasian bidang studinya dan prinsip-prinsip pendisiplinannya.
Para murid dan guru yang ada disekolah Tolstoy mempunyai kebebasan untuk tidak belajar dan mengajar. Menurutnya peran utama guru adalah sebagai pendengar lalu memodifikasi apa yang didengarnya. Tidak ada silabus dan batasan belajar yang harus ditaati. Kita dapat melihat pandangan Tolstoy yang tidak logis tapi ada konsitensi yang menyatukan pandangan itu yaitu yang diarahkan kepada pembebasan murid. Ada keterkaitan antara tujuan pendidikan, peran guru, metoda pengajaran, konsepsi tentang murid serta tata cara yang diharapkan bisa merangsang murid untuk memulai pemikirannya sendiri.
Dari asumsi yang telah diterangkan oleh Leo Tolstoy jelas disini bahwa dia adalah seorang teoritikus pendidikan. Dia tidak mempunyai doktrin yang saling terkait secara logis. Dijelaskan bahwa pandangan dari Tolstoy memaparkan terhadap anti teori. Tetapi ada aspek-aspek pemikirannya yang muncul kembali dalam pemikiran Dewey. Diantara kritik-kritik Tolstoy dipakai pada abad ke-19 tentang kemampuan mencapai kesempurnaan yang tidak terbatas secara otomatis. Bagi Tolstoy pendidikan yang bebas tidak harus diartikan sebagai kehidupan tanpa pendidikan sama sekali. Tolstoy ingin agar diterimanya sebuah tanggung jawab untuk mendidik yang menekankan faktor lingkungan sosial dalam pendidikan. Hal ini juga dipakai oleh para pemikir modern begitu juga para teoritisi zaman sekarang memakai pemikiran Tolstoy tentang pentingnya motifasi intrinsik murid yang berasal kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Tolstoy tidak hanya mereformasikan pendidikan tapi ia juga ingin membangun konsepsi baru yang segar mengenai masyarakat serta nilai individu yang ada didalamnya, baginya teori pendidikan adalah usaha yang memberikan nalar bukan nalar yang mendasari pendidikan, teori pendidikan dianggapnya jaringan-jaringan pernyataan yang membenarkan diri serta menjalankan sebuah system yang masih dangkal, menurutnya pendekatan baru harus didasarkan pada renungan-renungan, analogi, pengamatan dengan kesadaran eksistensial bukan berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah tertata atau logis
Pendekatannya yang romantik, dan penuh renungan pandanagnnya tentang pendidikan bukan ilogis bertentangan dengan logika, tapi lebih sering non-logis , tidak mengikuti alur logika yang dicarinyta bukan system pemikiran koheren melainkan renungan kedalam pendidikan. Salah satu akibat pemikiranya terjadinya kesimpangsiurandefenisi istilah pokok tentang pendidkan, instruksi pengajaran, kebudayaan, pedalogi dan ilmu pengetahuan yang dipakai berulangulang tanpa ada penjelasan sama sekali, hal ini membuat para analis modern marah membaca karyanya , tapi akhirnya mereka sadar bahwa Tolstoy adalah seorang penyair yang mencari panangan baru yang lebih mendalam tentang pendidikan
Filsuf Alfred North whitehead dalam renunganya tentang pendidikan yang sama dengan Tolstoy yaitu tentang menyikapi keterkaitan timbale balik antara cara dengan tujuan dalam pendidikan, ia menunjukan kemampuan pembedaan-pembedaan yang logis konvensional dan menelusuri jalur baru mengenai tujuan dan sasaran dalam pendidikan, gagasanya akhirnya dipetik oleh teoritisi dan dimasukan pada teori-teori progesif baru di dukung oleh bukti-bukti dari ilmu-ilmu social yang baru berkembang.
Kesimpulanya teori pendidikan Tolstoy adalah heuristic, yang merangsang pembaca untuk menyelidiki, berfikir, menata diri sendiri, ia menentang kita memakai sudut pandang yang betul-betul baru. Pendekatan yang di gunakan tidak katalistik. Ia hanya menyarankan arah-arah yang positif bagi reformasi pendidikan serta menawarkan dasar-dasar baru untuk menetapkan prioritas pendidikan.
E.    Antropologi dan Pembangunan
Dalam perspektif Antropologi, pembangunan adalah bagian dari kebudayaan. Pembangunan adalah eksistensi dari sejumlah tindakan manusia. Sementara, kebudayaan merupakan pedoman bagi tindakan manusia. Dengan demikian berdasarkan pemahaman antropologi, pembangunan beorientasi dan bertujuan untuk membangun masyarakat dan peradaban umat manusia. Antropologi mencakup perhatian kepada kajian-kajian tentang:
a)    Seluruh variasi masyarakat di seluruh dunia.
b)    Masyarakat dalam seluruh periode waktu yang dimulai dari perkembangan manusia jutaan tahun silam sampai melacak perkembangannya pada kondisi masa kini,
c)    Masyarakat yang dikategorikan karena perkembangan kategorikal peradaban, sehingga membentuk suatu masyarakat kota dan masyarakat pedesaan.
Pembangunan berisi suatu kompleks tindakan manusia yang cukup rumit yang melibatkan sejumlah pranata dalam masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (1980) bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan. Dalam pembangunan, masyarakat menjadi pelaku dan sekaligus objek dari aktivitas pembangunan. Keterkaitan atau korelasi antara masyarakat dan pembangunan akan terjadi melalui pengendalian dari kebudayaan. Di dalam kebudayaan, tatanan nilai menjadi inti dan basis bagi tindakan manusia. Fungsi elemen nilai (cultural value) bagi pembangunan adalah untuk mengevaluasi proses pembangunan agar tetap sesuai dengan standar dan kadar manusia.
Manusia menjadi fokus bagi proses pelaksanaan pembangunan. Salah satu yang utama dari proses tersebut adalah terbentuknya mentalitas pembangunan yang dapat mendorong secara positif gerak pembangunan (Koentjaraningrat 1990). Mentalitas pembangunan ini terwujud karena berbasiskan nilai budaya yang luhur, positif dan inovatif bagi pemunculan ide-ide dan gerak pembangunan.
Pembangunan dapat diartikan sebagai proses menata dan mengembangkan pranata-pranata dalam masyarakat, yang didalam pranata tersebut berisi nilai-nilai dan norma-norma untuk mengatur dan memberi pedoman bagi eksistensi tindakan masyarakat. Sejumlah pranata tersebut, antara lain pendidikan, agama, ekonomi, politik, ekologi, akan membentuk suatu keterkaitan fungsional guna mendukung, melegitimasi dan mengevaluasi komplek tindakan manusia tersebut. Dengan kata lain, pembangunan akan menyinggung isu pemeliharaan nilai dan norma masyarakat, namun sekaligus membuka ruang bagi isu perubahan sosial. Hal ini logis, karena setiap kegiatan dari pembangunan akan menuntut dan mengadopsi berbagai kondisi kemapanan yang telah diciptakan oleh masyarakat untuk terus dinamis. Diasumsikan bahwa perubahan demi perubahan akan terjadi di dalam pembangunan. Dengan demikian, adaptasi akan menjadi salah satu strategi utama dalam aktivitas masyarakat terhadap proses pembangunan.
Konsep Pembangunan dalam era perkembangan peradaban manusia telah menjadi tujuan utama setiap lembaga yang disebut negara. Secara teoritis, konsep pembangunan dibangun dari pandangan teori Modernisasi pada era tahun 1950-an. Pada masa itu, banyak negara jajahan telah merdeka dari cengkeraman kolonialisme, terutama pasca Perang Dunia II. Setelah itu, kekuatan dunia di dominasi oleh dua kekuatan blok yaitu Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Sovyet. Blok Barat mewakili sejumlah negara yang konsern dengan pembangunan untuk memajukan manusia melalui perkembangan materialisme/pembangunan ekonomi. Pembangunan yang berlangsung pada periode awal adalah pembangunan berdasarkan pandangan Barat, karena teori dan model pembangunan berakar pada sejarah ekonomi Barat (Hette, 2001: 64). Sementara, kekuatan Blok Timur terletak kepada usaha menanamkan ideologi sosialis-komunis ke dalam pembangunan. Paradigma Leninisme menjadi sentral bagi peradaban pembangunan yang dibentuk oleh kekuatan blok Timur ini. Dengan demikian, periode awal pembangunan negara-negara post-kolonial merupakan kontestasi antara kekuatan ideologi pembangunan modernisme dan kekuatan ideologi penmbangunan sosialis-komunisme.
Oleh karena pembangunan dan kebudayaan sangat erat terkait dan berhubungan satu sama lain, maka terdapat suatu konsep yang cukup berhembus semilir semenjak lama yaitu pembangunan berwawasan budaya. Di dalam pengertian ini, pelaku pembangunan diingatkan untuk tidak melepaskan diri dari konteks kebudayaan untuk merancang, melaksanakan dan menghasilkan tindak pembangunan.
Pada bagian pertama buku ini, Syahrizal memberikan pengertian tentang konsep pembangunan berwawasan budaya ke dalam dua pengertian. (1) Pembangunan berwawasan budaya adalah pembangunan yang tidak menghilangkan nilai-nilai budaya dan tetap mementingkan wujud-wujud budaya didalam setiap aspek yang dibangun di dalam masyarakat. (2) Pembangunan berwawasan budaya adalah pembangunan yang dilaksanakan tidak bertentangan dengan kebudayaan, karena kalau terjadi pertentangan, maka pembangunan akan merugikan masyarakat. Hal ini berarti, pembangunan tersebut dianggap gagal. Dengan demikian, secara normatif, pembangunan mestinya berpijak kepada ide dan kebutuhan masyarakat.
Colleta mendefinisikan pembangunan lebih moderat dan umum, yakni sebagai suatu proses perubahan yang „positif“ dalam meningkatkan kualitas dan tingkat keberadaan manusia. Juga diartikan bahwa, pembangunan pada hakekatnya merupakan proses perubahan sosio-ekonomis yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup, kualitas dan martabat manusia (1987: 4-5). Pengertian Colleta ini memberi ingatan kepada kita semua bahwa materi dan tujuan dasar pembangunan adalah kualitas dan martabat manusia.
Untuk memantapkan konsern kajian pembangunan, antropologi menempatkan diri melalui pengembangan suatu subdisiplin, yaitu antropologi terapan. Nursyirwan Effendi dalam buku ini menulis bahwa antropologi terapan memanfaatkan disiplin antropologi di luar batas-batas disiplin akademis yang umum untuk memecahkan problem-problem praktis di dalam pembangunan, melalui penyediaan informasi, penciptaan kebijakan atau langsung melakukan suatu aksi (practicing anthropology). Antropologi selain menganalisa fenomena pembangunan, juga langsung praktek menerapkan ilmu di bidang-bidang tertentu pembangunan seperti kesehatan, pendidikan, pembinaan masyarakat dan lain-lain. Dalam konteks ini, antropologi dapat berperan penting dalam pembangunan melalui penelitian terapan dan intervensi. Melalui dua metode ini, antropologi dapat menolong menginformasikan proses pembangunan bagi pemerintah dan juga masyarakat, khususnya dalam aspek kebijakan, dan mengevaluasi dampak atau keputusan suatu kebijakan, dan menjembatani antara pola pikir pemerintah dan budaya masyarakat lokal. Akhirnya, antropologi terapan berorientasi menggunakan data yang dikumpulkan dari sub disiplin antropologi alainnya, untuk menawarkan solusi praktis bagi masalah-masalah dalam masyarakat, akibat proses pembangunan.
Dalam buku ini, pada bab lain, Nursyirwan Effendi juga menulis tentang suatu fenomena tentang aktivitas masyarakat untuk membangun dan mengembangkan diri yang tidak termasuk di dalam kerangka rancangan pembangunan formal atau kerangka pembangunan yang diciptakan oleh pemerintah. Pembangunan di tengah masyarakat tidak berarti adalah hasil dari kebijakan, tetapi juga di luar kebijakan yang dibuat dan diimplementasikan. Pembangunan juga berarti pelaksanaan perubahan masyarakat melalui usaha mandiri dan tidak ada kaitannya dengan pembangunan yang dirancang oleh pemerintah. Fenomena tentang terdapatnya sejumlah kelompok masyarakat yang secara mandiri mengubah standar, pola hidup dan menciptakan peluang kesejahteraan di luar konteks perjalan pembangunan secara formal, atau mereka membangun diri secara independen dari peran dan campur tangan pemerintah disebut pembangunan setempat atau „on-the-ground development“. Pada konteks ini, antropologi konsern dengan fenomena kemasyarakatan yang berkontribusi kepada wacana pembangunan.
F.    Pembangunan dan Masyarakat Lokal
Eksistensi suku-suku bangsa di Indonesia, khususnya tentang pola hubungan antar sukubangsa. Tulisannya kali ini menguraikan suatu analisa tentang masyarakat majemuk. Kemajemukan dapat dipahami dari terdapatnya tiga sistem yang digunakan sebagai acuan dalam kehidupan warga Indonesia, yaitu Sistem Nasional, Sistem Sukubangsa dan Sistem Tempat-tempat Umum. Sistem-sistem tersebut berbeda satu dan lainnya serta operasional pada bidang-bidang masing-masing. Namun, ketiga sistem tersebut saling melengkapi dalam berbagai kegiatan pemenuhan kebutuhan kehidupan orang Indonesia. Dari ketiga sistem tersebut, Sistem Nasional adalah sistem yang berada di atas dari dan merupakan puncak yang menaungi dua buah sistem lainnya. Kaitannya dengan pembangunan, meskipun tidak khusus memfokuskan kepada kajian pembangunan.
suatu analisa fundamental bagi pemahaman kompleksitas warga masyarakat Indonesia. Kemajemukan adalah fakta sahih tentang kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, merancang pembangunan di Indonesia perlu mencerna keanekaragaman masyarakatnya, agar proses pembangunan menjadi tepat sasaran. Dengan kemajemukan, pembangunan bertujuan untuk mempertahankan keberagaman masyarakat, dan bukannya menseragamkan masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan mestinya menumbuhsuburkan budaya masyarakat setempat dan bukannya membuat layu variasi keanekaragaman budaya masyarakat.
Pembangunan sebenarnya untuk siapa? Pertanyaan ini yang agaknya dapat dikaitkan dengan polemik antara istilah dan konsep tentang Komuniti Lokal. Apabila pengamatan dilayangkan kepada penduduk Indonesia, maka akan terlihat jumlah penduduk yang besar dan jumlah sukubangsa yang banyak dengan daerah-daerah kepualauannya yang menyebar keseantero wilayah negara. Namun, faktanya ketimpangan persebaran penduduk menjadi kendala bagi tumbuh berkembangnya negara ini. Bagaimana kita dapat mengembangkan pembangunan dengan basis kekuatan komuniti lokal, karena persebaran penduduk tidak merata?
Persebaran penduduk di Indonesia pada dasarnya merupakan persebaran dengan kelompok-kelompok kesukubangsaan dengan wilayah yang dimiliki oleh kelompok-kelompok bersangkutan. Pengelompokan ini biasanya ditandai dengan kebudayaan sukubangsa tersebut. Kenyataannya, masih banyak persebaran komuniti lokal berbasis sukubangsa ini yang jumlahnya sangat kecil dan berlokasi jauh dari pusat-pusat persebaran di wilayah-wilayah pedalaman. Ketidakmerataan persebaran komuniti lokal, menyebabkan ketimpangan dalam pertumbuhan pembangunan.
Konteks lokal dari pembangunan di masyarakat Minangkabau. Kata „minangkabau“ pada dasarnya merupakan pengertian yang mengacu kepada realitas kebudayaan suatu masyarakat di wilayah administratif Sumatera Barat. Namun, kata tersebut tidak identik dengan pengertian Sumatera Barat. Kebudayaan Minangkabau yang khas telah dijabarkan oleh penulis untuk memberikan suatu gambaran kompleksitas tertentu yang perlu dicermati dalam rangka pembangunan di daerah. Persoalan adat dan tradisi, kekerabatan, kesatuan hidup masyarakat dan entitas nagari adalah sebagian dari kompleksitas kebudayaan Minangkabau.
Dengan mengambil kasus pada masyarakat Minangkabau, kedua penulis ini mendiskusikan tentang nilai-nilai adat Minangkabau yang kiranya dapat mendukung pembangunan politik di daerah.
Pembangunan politik berwawasan budaya lokal sangat mudah ditemukan dalam keseharian. Namun eksistensinya mengkhawatirkan, karena terpaan penetrasi kultur asing. Melalui kearifan lokal, masalah pembangunan politik dapat diarahkan sesuai dengan kepentingan masyarakat lokal. Kearifan nilai lokal yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia yang kaya dengan berbagai macam sukubangsa, budaya, agama dan bahasa sesungguhnya dapat menjadi „oase“ dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional.
Persoalan pembangunan di komuniti lokal, dengan mengambil kasus di masyarakat Mentawai. Sebagai masyarakat yang baru berkembang di tengah hiruk pikuknya pembangunan, Mentawai dapat menjadi tolok ukur bagi proses perajalan pembangunan nasional sejauh ini. Keberhasilan pembangunan Nasional masih terkendala dengan masih lemahnya implementasi pembangunan di daerah ini. Dengan kata lain, pembangunan di masyarakat Mentawai masih mengalami ketertinggalan. Aspek utama hambatan tersebut adalah pembangunan sarana dan pra-sarana transportasi dari Mentawai ke daratan Sumatra, atau sebaliknya, dianggap masih kurang. Aspek lain adalah bidang pendidikan dan kesehatan yang juga dianggap masih menjadi titik lemah dari proses pembangunan di daerah ini. Hal ini berarti bahwa anggapan tentang keberhasilan pembangunan nasional tidak terjadi atau tidak menapak di tengah masyarakat Mentawai.
persoalan pembangunan nagari dalam otonomi lokal Sumatera Barat. Tujuan utama pembangunan nagari adalah memperkuat kebutuhan fisik dan non fisik nagari namun masih banyak ditemukan permasalahan pembangunan di level nagari, yaitu pembangunan gedung sekolah, jaringan infrastruktur telepon, irigasi, sarana jalan dan aset nagari. Namun dengan wacana „kembali ke nagari „ setelah sekian tahun lamanya Sumatera Barat menggunakan pendekatan pembangunan pedesaan, terdapat perbedaan kepentingan, tujuan dan kebijakan antara komunitas lokal dan pemerintah.
G.   Implikasi Pembangunan pada Masyarakat Lokal
terjadinya krisis moneter yang menimpa indonesia yang berdampak kepada krisis ekonomi dan menjalar pada aspek kehidupan lainnya seperti sosial, budaya dan politik sehingga memicu terjadinya krisis multi dimensional yang berkepanjangan. Namun cerita sukses pada krisis ekonomi tersebut dilakukan melalui aktifitas ekonomi pasar loak. Melalui pasar Loak ditemukan rekontruksi sosial masyarakat Minangkabau yang mengarah kepada kelompok sosial ekonomi menengah ke bawah yang mengkomsumsi barang-barang kelas dua yang diperjualbelikan oleh pedagang loak.
Menurut hasil penelitian mengenai implikasi Undang-undang perkawinan terhadap keluarga dan wanita yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan peran yang kaku antara laki-laki dan wanita dalam keluarga sehingga menjadikan wanita tidak berdaya dari segi ekonomi dan wanita selalu tergantung pada laki-laki (suami). Disamping itu ketidakberdayaan wanita secara ekonomi ini seringkali dimanfaatkan oleh laki-laki untuk melakukan poligami. Kasu-kasus perceraian yang terjadi kebanyakan adalah karena adanya orang ketiga dan masalah ekonomi. Sementara itu prosedur yang berbelit-belit dan cenderung memihak laki-laki seringkali menyebabkan wanita enggan mengurus perceraiannya di pengadilan, sehingga banyak terjadi cerai di bawah tangan. Akibatnya wanita yang diceraikan tidak mendapat santunan dan secara hukum tidak jelas statusnya, sedangkan laki-laki dengan mudah akan kawin lagi. Dengan demikian meskipun berdasarkan syarat-syarat yang diberlakukan sulit untuk kawin lagi bagi laki-laki tetapi dengan mudahnya cerai di bawah tangan laki-laki lebih untuk berpoligami secara tidak sah.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di sebuah perkampungan tradisional Minangkabau yakni di Balairong Bunta di Kenagarian Rao Rao Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat mengenai kerentanan struktural laki-laki lansia dalam masyarakat matrilineal Minangkabau. Topik Antropologi tentang kerentanan orang lanjut usia (lansia), dimana laki-laki lansia lebih jarang dibicarakan dibandingkan perempuan lansia. Hal ini karena laki-laki lansia biasanya dipandang dalam posisi lebih beruntung, lebih kuat, lebih berkuasa, mempunyai harta, memegang hak waris yang lebih besar, memiliki tabungan, memiliki akses ekonomi lebih baik dan sebagainya, sehingga sering dianggap kurang rentan dibandingkan perempuan lansia.
Kerentanan laki-laki di usia tuanya cenderung sering dijelaskan menurut kerangka asumsi pendekatan individual atau dengan menggunakan perspektif mentalitas dan representasi budaya yang lebih menekankan analisisnya terhadap saling hubungan antara situasi kerentanan laki-laki lansia dengan pola pencitraan (image), sistem norma dan dominasi ideologi patriarki di dalam masyarakat. Kerentanan laki-laki lansia selalu dihubungkan dengan perubahan status, kedudukan dan sumber-sumber kekuasaan yang berkurang secara drastis yang dialaminya sehingga laki-laki lansia menghadapi suatu situasi yang dinamakan post power syndrom.
pengkajian komunitas adat terpencil (KAT) yang saat ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah Sumatera Barat di kepulauan Mentawai untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat lokal sesuai dengan amanat undang-undang dan tujuan negara Indonesia. Namun dikarenakan berbagai kendala geografis, keterbatasan kemampuan dan karakteristik masyarakat dan komunitas adat terpencil itu sendiri menyebabkan usaha pemberdayaan itu belum mampu menjangkau segenap komunitas tersebut.
Melalui pengkajian Komunitas Adat terpencil tersebut dapat memperbaiki konsistensi kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam di Siberut dan memperhatikan aspirasi masyarakat dan mengkaji ulang (memperbaiki) tata ruang wilayah Siberut berdasarkan partisipasi masyarakat. Realisasi berbagai program pembangunan oleh berbagai pihak (terutama yang pernah menjanjikan dengan masyarakat setempat), untuk dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap agen pembangunan yang dilaksanakan secara partisipasi, transparansi dan akuntabilitas dalam setiap kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program.






Antropologi Pendidikan

Tugas Individu












Hari Sulistiyo          1215066109










TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

International Visitor Statistic

free counters